Anda harus mengaktifkan JavaScript agar bisa mendapatkan informasi-informasi kami. Atau mungkin browser anda tidak mendukung JavaScript

GPIB "ZEBAOTH" Bogor , Anggota ti Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat - Gereja Protestan di Indonesia bagian Kulon - Protestant Church in the Western part of Indonesia - De Protestantse Kerk Westelijk Indonesie. Anu mangrupa salah sahiji ti 53 jemaat mimiti GPIB di warsih 1948. Gereja ieu perenahna di puseur dayeuh Bogor ti Indonesia sarta mangrupa hiji-hijina gereja anu aya dina lingkungan Kebun Raya Bogor. Peletakan batu kahiji gedong gereja Zebaoth dipigawe dina 30 Januari 1920 sarta dibere wasta Köningin Wilhelminakerk.

SAMPURASUN

 

WARTOS

Potret Gereja dan Jemaat Kita

     Kalau kita membuat semacam 'pengamatan' sosial praktis terhadap GPIB secara sinodal dalam sepuluh tahun terakhir, maka kita akan melihat dua hal yang menarik perhatian. Hal yang pertama adalah terjadinya semacam 'pergeseran tekanan' dari Pelayanan dan Kesaksian, ke Organisasi. Hal yang kedua -yang jauh lebih menonjol- adalah GPIB bermasaalah dalam hal materi, baik itu uang, maupun asset. Anehnya sementara itu ada tekanan pembenahan management, yang hasilnya justru makin mengecewakan.

     Kalau pengamatan itu kita 'daratkan' ke jemaat maka kita akan melihat 'pergeseran tekanan' juga, dari pelayanan, ke keuangan.. Di banyak Jemaat terjadi gejala, bahwa kalau ada program, maka yang dilihat lebih dahulu adalah kemampuan keuangan, dan bukan tujuan. Keuangan yang dikeluarkanpun jarang diukur dengan tujuan program. Kita mengalami persoalan dengan PTB, dengan DPS dan banyak yang lain lagi. Dalam banyak Jemaat terjadi bahwa program disusun dengan selisih biaya yang lalu menjadi beban Komisi Usaha Dana. Tentu saja ada variabel yang kadang kadang signifikan dari jemaat yang satu ke jemaat yang lain. Tapi masalah dasarnya tetap sama.

     Persoalan Gereja sesungguhnya bukanlah menentukan mana yang prioritas, pelayanan, atau keuangan. Juga bukan soal tanggung jawab sinodal atau parochial. Persoalannya adalah 'apakah memang harus terjadi' suatu urutan prioritas antara pelayanan dan keuangan, apakah memang harus terjadi friksi ketika program harus dilaksanakan, antara unit pelayanan yang berkepentingan dengan pejabat keuangan atau Majelis Jemaat; apakah memang harus terjadi friksi antara tujuan pelayanan dengan organisasi. Pertanyaan ini penting untuk ditanyakan kepada Gereja dan Jemaat Jemaat GPIB Persoalan kita disini adalah mencari akar permasaalahan. Kalau akar permasaalahan itu ditemukan, kita akan lebih tepat dalam memilih jawaban. Kalau jawabannya ditemukan maka kita akan lebih lega dalam menentukan prioritas, dan lebih 'berpengharapan' ketika melaksanakan program, dan akhirnya lebih 'bertambah dalam pengalaman iman', baik sebagai pribadi, persekutuan Jemaat, maupun sebagai gereja. Dalam hal ini -dan untuk pembahasan kita kemudian- istilah gereja, jemaat, orang Kristen akan kerap dipakai dalam arti yang bersamaan. Kita juga tidak akan mulai bergerak dalam pemahaman ekklesiologi secara teoritis-theologis pada tataran akademis. Kita akan bergerak lebih pada pengamatan empiris yang kalau perlu baru kita refleksikan menjadi pandangan ekklesiologis yang teoritis.

Gereja : Kumpulan Orang Yang Diselamatkan Karena Percaya.

     Gereja adalah sekumpulan orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Ketika mereka percaya kepada Yesus Kristus itulah, maka mereka diselamatkan. Tapi yang tidak begitu jelas selama ini adalah apa makna dari 'percaya' itu.

     Percaya -dalam iman Kristen- bukanlah sesuatu yang obyektif karena informasi kognitif. Percaya adalah sesuatu yang subyektif, karena informasi theologis. Percaya dalam Iman Kristen jadinya adalah 'mempercayakan diri'. Kita tidak 'percaya bahwa ada', melainkan kita 'mempercayakan diri kepada'. Jadi pasal pertama pengakuan Iman Rasuli harus dimengerti sebagai : 'Aku mem-percaya-kan diri kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa ..dst'. Ungkapan subyektifitas ini pada dirinya sendiri berakar dalam obyektifitas. Artinya, bukan hanya aku sendiri tapi sudah ada begitu banyak orang lain yang mempercayakan diri kepada Allah, dan percayanya mereka itu fungsional dalam kehidupan. Percaya dalam arti 'mempercayakan diri' ini juga selalu berarti bersaksi. Kesaksian itu terjadi karena pengalaman pribadi yang subyektif, akan tetapi berakar dalam kondisi ob-yektif. Baik dalam kenyataan kehidupan umumnya, apalagi dalam kenyataan religious, percaya yang mempercayakan diri selalu mempunyai buah kesaksian, baik itu disengaja, maupun tidak disengaja.

Model Kesaksian :

     Kesaksian itu bisa dilakukan melalui dua model dasar. Yang pertama adalah bentuk bentuk yang verbalistik, baik dalam formula ibadah maupun dalam kesempatan kesempatan yang argumentatif. Yang kedua adalah dalam bentuk 'perilaku'. Kesaksian dalam bentuk perilaku ini biasanya dikatakan sebagai 'khotbah yang tak terbantahkan'. Artinya bahwa dalam perilaku tertentu, terbaca keyakinan konseptual dan teoritius dari orang yang bersangkutan, baik mengenai moral dan etika, maupun iman itu sendiri.

     Kesaksian dalam bentuk perilaku terbagi dua juga. Yang pertama yang ditujukan kepada Allah, -entah itu dilihat atau tidak oleh manusia- dan yang kedua ditujukan ke-pada sesama -yang pasti dilihat oleh Allah- . Dalam bentuk yang pertama kita bertemu dengan ibadah. Tapi ibadah ini, -aslinya dalam Alkitab- selalu punya satu unsur penting, yakni penyembahan melalui persembahan. Jadi, secara Alkitabiah, persembahan itu bukanlah semacam acara 'take and give' dengan Tuhan dalam arti setelah mendengarkan wejangan spiritual lalu umat meresponsnya dengan pemberian material. Persembahan itu sebenarnya adalah bentuk penyembahan, yang merupakan bentuk konkrit dari kesaksian.

Persembahan Sebagai Bentuk Kesaksian

     Untuk melihat bahwa persembahan pada bentuknya yang paling hakiki adalah sebagai bentuk kesaksian, rasanya kita harus melakukan semacam 'napak tilas' Alkitabiah, walaupun sangat sekilas. Dalam Alkitab, istilah 'persembahan' berdempetan dengan istilah 'korban'. Kadang kadang kedua istilah ini digunakan dalam arti yang sama, sekalipun kadang kadang jelas bedanya Antara lain, korban selalu menyangkut penyembelihan binatang, sementara persembahan tidak selalu demikian. Kita mulai dengan 'korban'.

     'Korban' memainkan peranan yang sangat penting dalam Ibadah Israel, sebagaimana yang kita baca dalam Perjanjian Lama. Korban adalah sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah(Kej. 4/3 - 5). Tetapi korban juga bisa berarti pengabdian kepada Allah (Rm 12/1). Kita mengenal beberapa jenis korban :

     Korban Bakaran adalah hewan hidup yang disembelih kemudian dibakar seluruhnya. Sebelum disembelih dan dibakar, yang bersangkutan meletakkan tangannya atas hewan korban itu sebagai tanda untuk menyatakan bahwa hewan ini adalah pengganti saya. Saya menyerahkannya semua ke mezbah Allah sebagai ungkapan bahwa segala sesuatu yang saya miliki itu adalah dari Allah. (Im 1/1-17).

     Korban pentahbisan, juga terdiri dari hewan ( Im 8/ 22, 28 - 29).

     Korban Penebus Salah, disebut juga sebagai tebusan salah, korban karena salah, atau persembahan karena salah; berupa hewan, dipersembahkan oleh seseorang yang karena perbuatannya, telah menyakiti atau membuat menderita 'orang lain'/sesama ( Im 5/15 - 19; I Sam 6/3).

     Korban penghapus dosa dipersembahkan karena seorang telah berdosa 'pada dirinya sendiri' dan melanggar aturan keagamaan (Im 4/2 - 14).

     Korban curahan, adalah air anggur yang dicurahkan keatas mezbah bersama dengan korban korban lainnya. Korban curahan ini sama dengan persembahan curahan, atau persembahan cucuran, atau persembahan minuman ( Ul 32/38; Kel 29/40; 37/ 16).

     Korban sajian adalah persembahan yang terdiri dari roti atau bahan bahan untuk roti. Sama dengan persembahan makanan. Kadang kadang persembahan ini dibakar habis seluruhnya diatas mezbah, kadang kadang sebagian diambil untuk dimakan para Imam ( Kel 29/ 41.).

     Selain itu kita masih menemukan istilah Korban syukur, korban syukur puji-pujian dan korban keselamatan (Im 7/15; 21). Juga korban tatangan, korban timangan, sama dengan persembahan khusus (Kel 29/24 - 28).

     Catatan catatan tentang korban ini mengatakan beberapa hal bagi kita dari dunia Israel yang agraris: Yang pertama ada korban sembelihan yang berhubungan dengan dosa dan kesalahan. Yang kedua ada korban korban bukan sembelihan yang tidak berhubungan dengan dosa dan kesalahan. Yang ketiga, semua korban ini berhubungan dengan Kenyataan bahwa Allah 'telah' berbuat sesuatu, dan bukan 'supaya' Allah akan berbuat sesuatu. Keempat jelas sekali aspek kesaksian dalam korban korban ini. Dan yang kelima aspek kesaksian itu bersatu dengan aspek syukur.

     'Persembahan' sebagaimana dikatakan diatas, adalah istilah lain untuk 'korban'. Namun khusus untuk persembahan kita mau menyebut dua hal. Pertama adalah Persembahan khusus. Sebagian daripada sesuatu yang dipisahkan dari sisanya untuk dise-rahkan kepada Tuhan. Disebut juga korban tatangan, persembahan timangan atau persembahan unjukan, karena umat Allah menatang, menimang, atau mengunjuk persembahan itu lalu dibawa kepada Imam (Kel 25/2; 29/ 24-28; Bil 18/8, 11; Neh 12 : 44). Yang kedua adalah Persembahan Persepuluhan. Disebut juga sepersepuluh, atau per-puluhan. Ini adalah persembahan yang diberikan kepada Allah sebagai tanda Pengakuan bahwa Dia pemilik segala galanya. Besarnya persembahan itu adalah sepersepuluh dari penghasilan pemberi. (Kej 14/20; Ul 12/6, 11, 17; Neh 18/38; 12/44; Mat. 23/23; Luk 18/12; Ibr 7/5-9).

     Hal yang jelas sama dengan korban adalah : Yang pertama, semua persembahan ini berhubungan dengan kenyataan bahwa Allah ‘telah’ berbuat sesuatu, dan bukan 'supaya' Allah akan berbuat sesuatu. Kedua jelas sekali aspek kesaksian dalam persembahan ini. Dan yang kelima aspek kesaksian itu bersatu dengan aspek syukur. Yang menarik lagi adalah melihat korban dan persembahan ini dalam Perjanjian Baru.

     Ada keterputusan, tetapi ada juga kesinambungan mengenai korban dan persembahan dalam Perjanjian Baru. Keterputusan itu jelas sekali tentang hal hal yang menyangkut sembelihan. Yesus, para murid dan bagian terbesar Jemaat abad pertama berasal dari latar belakang Yahudi. Tetapi tidak ada dokumentasi PB yang berceritera tentang bagaimana mereka ini mempersembahkan korban korban sebagaimana yang terlihat jelas dalam PL. Ini berarti kalaupun mungkin mereka melakukannya, para penulis PB menganggapnya tidak penting. Atau kemungkinan lain, mereka berhenti melakukannya sama sekali. Alasannya sangat jelas. Peristiwa Salib dilihat dalam latar belakang Yesaya 53. Yesus Kristus adalah konkretisasi Anak Domba Allah yang menanggung dosa dunia.

     Kesinambungan jelas sekali dalam hal Persembahan Perpuluhan. Kritik Yesus dalam Mat 23 dan Luk 18 adalah menyangkut perilaku orang tanpa kasih, dan bukan menyangkut persembahannya. Tetapi uraian dalam Ibrani 7 menjelaskan bahwa perpuluhan tetap ber-laku, malahan dikatakan jelas disana juga dari suku Lewi yang berhak menerima persepuluhan. Hal hal ini harus dilihat dari kenyataan sosial ekonomis, bahwa orang Yahudi zaman Tuhan Yesus dan jemaat abad pertama tidak lagi didominasi oleh petani penggembala seperti zaman bapa leluhur Israel. Dan yang pasti, tidak ada satupun bagian dalam Alkitab yang membatalkan Perpuluhan. Kalau ada yang - dari segi penafsiran - ingin membatalkan perpuluhan dengan menunjuk kepada peristiwa salib - seakan akan korban yesus di salib juga menghapus persembahan perpuluhan - maka dia juga harus membatalkan seluruh kitab Ibrani, minimal Ibrani pasal 7!.

Bersambung ....

 

     Salam dalam Kasih Yesus Kristus,
Mencermati perkembangan diskusi di media sosial (Medsos) khususnya facebook yang akhir-akhir ini sudah mengarah ke diskusi yang menghina dan mencemarkan nama baik individu maupun lembaga GPIB, maka dengan ini Majelis Sinode GPIB menyampaikan Surat Gembala tentang Etika Berkomunikasi di Media Sosial sebagai berikut :

     Pertama, menghimbau kepada seluruh Majelis Jemaat dan warga jemaat GPIB agar dapat menyikapi Surat Edaran yang ditandatangani Kapolri Jendral (Pol) Badrodin Haiti pada 8 Oktober 2015 terkait ujaran kebencian (“Hate Speech”). Para netizen (istilah bagi pengguna internet) sudah harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang terbuka publik, secara khusus di jejaring media sosial. Hal ini dikarenakan jejaring media sosial menjadi salah satu sarana yang dipantau terkait penyebaran ujaran kebencian.

     Kedua, menghimbau kepada seluruh Majelis Jemaat dan warga jemaat GPIB agar dalam berdiskusi dengan menggunakan ruang media sosial dapat memperhatikan UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Undang-undang ini berfungsi ganda, yaitu melindungi hak-hak warga Negara dari tindakan yang tidak terpuji dan merugikan, sekaligus memaksa warga Negara dengan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan.

     Ketiga, menegaskan bahwa pembukaan name account di media sosial (facebook, twitter, path, line, mailing list dan media sosial lainnya) dilarang untuk menggunakan nama GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) tanpa seijin tertulis dari Majelis Sinode GPIB.

     Keempat, mengajak seluruh warga jemaat GPIB dalam menggunakan ruang media sosial untuk berdiskusi, kiranya dilakukan secara santun dan bertanggung jawab atas dasar kasih persaudaraan, menjunjung tinggi etika keramah-tamahan yang membangun persekutuan dan menjaga kehormatan GPIB sebagai lembaga gerejawi. Karena itu, dihimbau untuk menjauhi diskusi bermuatan penghinaan/pencemaran nama baik individu maupun lembaga dan juga tidak mendistribusikan informasi/upload dokumen resmi lembaga GPIB yang dapat menimbulkan opini buruk terhadap GPIB sebagai lembaga keagamaan.

     Kelima, GPIB sebagai Tubuh Kristus sangat mendukung pengembangan hidup institusi yang sehat, terbuka dan bertanggung jawab menurut nilai-nilai spiritual : pertobatan, pembaruan, perdamaian, pengosongan diri dan kesederhanaan, yang kesemuanya itu adalah ruh dari gereja reformasi. Karena itu, perlu terus diciptakan kondisi hidup bergereja yang partisipatif terhadap dinamika hidup berjemaat yang semakin besar dan luas. Untuk itu hadirnya ruang-ruang media sosial membutuhkan peran pastoral gereja yang fungsinya mendampingi warga jemaat. Sekaligus merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial gereja untuk mengelola ruang-ruang media sosial menurut kaidah kepatutan, kesantunan yang membawa manfaat bagi terpeliharanya keutuhan persekutuan seluruh warga jemaat GPIB.

     Demikian Surat Gembala ini kami sampaikan untuk menjadi perhatian kita bersama di dalam menghidupkan diskusi ruang-ruang media sosial yang membangun persekutuan yang mendatangkan damai sejahtera bagi GPIB dan sesama.

Majelis Sinode GPIB

 
 
 



Buang Sampah Pada Tempatnya
Pilahlah Sampah
Gotong Royong
Wilujeng Milangkala Bogor Ka 534
Wilujeng Milangkala Bogor Ka 534
Wilujeng Milangkala Bogor Ka 534
Wilujeng Milangkala Bogor Ka 534
Wilujeng Milangkala Bogor Ka 534
Wilujeng Milangkala Bogor Ka 534

Flag Counter


Woro-woro