Anda harus mengaktifkan JavaScript agar bisa mendapatkan informasi-informasi kami. Atau mungkin browser anda tidak mendukung JavaScript
 

GPIB "ZEBAOTH" Bogor , Anggota ti Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat - Gereja Protestan di Indonesia bagian Kulon - Protestant Church in the Western part of Indonesia - De Protestantse Kerk Westelijk Indonesie. Anu mangrupa salah sahiji ti 53 jemaat mimiti GPIB di warsih 1948. Gereja ieu perenahna di puseur dayeuh Bogor ti Indonesia sarta mangrupa hiji-hijina gereja anu aya dina lingkungan Kebun Raya Bogor. Peletakan batu kahiji gedong gereja Zebaoth dipigawe dina 30 Januari 1920 sarta dibere wasta Koningin Wilhelminakerk.

WARTOS

Bacaan: Mazmur 4:5

"Sing ngadegdeg sieun, ulah nyieun deui dosa! Pek hal eta lalenyepan ari keur sepi sorangan di enggon."

Siapakah manusia di dunia ini yang tidak pernah marah? Semua orang pernah marah. Musa yang dikatakan sebagai orang yang sangat lembut hati, lebih dari semua manusia yang hidup di atas muka bumi saja pernah sangat marah (Bil 12:3, 20:9-13). Bahkan Tuhan Yesus pun pernah marah ketika Bait Suci dijadikan tempat berjual beli. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan mengusir semua orang yang ada di halaman Bait Suci. Marah sebenarnya merupakan reaksi alamiah ketika kita melihat sebuah keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Amarah bisa muncul karena suatu keadaan dianggap sudah melebihi batas dan kita tidak lagi bisa menahan kendali atas emosi. Mzm 4:5 berkata, "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam." Justru ini bagian yang paling berat. Seorang ayah yang baik akan mendidik anaknya pada jalan kebenaran. Hajaran dan tongkat yang diberikan pada waktunya akan menunjukkan kasih seorang ayah pada anaknya. Namun tetaplah berhati-hati dengan ucapan dan amarah yang di luar kendali karena dapat membuat anak sakit dan tawar hatinya. Demikian juga dengan anak, apa pun perlakuan dari orang tua kita janganlah dibalas dengan kata-kata yang tidak pantas atau malah kata-kata kutuk, karena siapa yang mengutuki ayah atau ibunya akan dihukum Tuhan. Sebaliknya, siapa yang menghormati ayah dan ibunya, akan beroleh umur panjang dan baik keadaannya di tanah yang diberikan Tuhan. Ingat, jangan pernah mengucapkan sesuatu yang akan Anda sesali di kemudian hari! Lalu, bagaimana caranya marah tetapi tidak berbuat dosa? Pertama, perhatikan motivasi. Marah yang baik didasari pada iktikad untuk mengoreksi kesalahan. Kedua, fokuslah pada mengoreksi perbuatan, namun jangan menyerang pribadi. Ketiga, fokuslah pada mengoreksi kesalahan yang dilakukan sekarang, jangan mengungkit kesalahan di masa lalu yang sudah selesai. Penguasaan diri adalah kata kunci supaya kita tidak berbuat dosa ketika marah. Jangan menjadi orang yang reaktif. Di saat ada seseorang atau situasi yang memancing Anda untuk marah, tetaplah tenang. Hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin. Sebuah pepatah Cina berkata, Jika kamu sedang marah, berhitunglah hingga sepuluh sebelum engkau bicara. Jika engkau sangat marah, berhitunglah hingga seratus. Karakter asli Anda akan terlihat saat Anda marah. Boleh marah, tetapi jangan sampai ada kata-kata kotor dan sia-sia keluar dari mulut kita. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. (Yak 3:9-10).

"Tuhan, beriku penguasaan diri supaya jangan sampai berdosa ketika marah. Taruhlah kekang di lidahku supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang sia-sia. Di dalam nama Yesus."
Renungan Manna Sorgawi


Flag Counter

Woro-woro